Memahami Pentingnya Pendidikan Seksual Melalui Anime Shimoneta

pentingnya pendidikan seksual dari Shimoneta


Pendidikan seksual merupakan hal yang tabu di Indonesia. Bahkan Isu pendidkan seksual di pendidikan dasar yang menyentuh usia dini terus menuai perdebatan dan penolakan di berbagai kalangan. Penolakan seringkali dilatarbelakangi oleh isu budaya dan moral. Namun pada akhirnya jika menemukan titik persamaan. Semua akan sepakat bahwa pendidikan seksual sangat penting untuk anak-anak dimuali dari usia dini. 

Memahami pentingnya pendidikan seksual bisa melalui cara yang menyenangkan, yaitu menonton anime yang berjudul Shimoneta (judul asli dalam bahasa inggris : (SHIMONETA: A Boring World Where the Concept of Dirty Jokes Doesn't Exist). Walaupun anime ini sudah lama tamatnya, namun saya baru ada kesempatan menonton dan dibuat kaget dengan cerita yang disajikan. Pesan yang ingin disampaikan anime ini begitu jelas yakni tentang pentingnya pendidikan seksual untuk anak-anak di usia sekolah. 

Disclaimer untuk yang ingin menonton anime ini, bahwa anime ini tontonan dewasa dan tidak secara eksplisit mengajarkan tentang pendidikan seksual. Namun dari sisi cerita menggambarkan kondisi sosial yang kacau dimana pendidikan seksual tidak diajarkan. Walaupun kacau, jalan cerita dipenuhi hal-hal lucu yang tidak bisa diduga. 

Review Singkat Anime Shimoneta 

Shimoneta menggambarkan Jepang sebagai negara bermoral dimana hal-hal berbau porno dan cabul dilarang. Pemerintah memasang alat pemantau di leher yang dipasang setiap masyarakat Jepang untuk mengawasi perilaku mereka. karena inilah Jepang bersih dari hal-hal yang berbau cabul dan porno. 

Bukan hanya memasang alat pemantau yang dipasang di leher, pemerintah juga membuat polisi khusus yang menangani jika terdapat  perbuatan masyarakat yang mengarah pada kedua hal tadi. Jangan bayangkan majalah porno, video dan gambar digitalnya, karena omongan yang mengarah ke dua hal tadi bisa terpantau oleh pemerintah dan langsung dieksekusi oleh aparat keamanan. 

Di tengah realita tersebut, seorang anak SMA bernama Tanukichi Okuma yang baru masuk sekolah dikejutkan oleh aksi teroris saat ia menuju ke sekolahnya. Teroris tersebut memancing kegaduhan dengan memakai celana dalam sebagai topeng wajah dan menyebarkan gambar-gambar yang membangkitkan hasrat seksual di publik. Teroris asusila tersebut membantu Tanukichi untuk kabur dari kejaran polisi. 

Tanukichi bertekad untuk berperilaku baik di sekolah dengan bergabung bersama osis dan bertemu dengan Anna Nishikinomiya, ketua osis yang disukainya. Selain itu ada anggota osis lainnya yakni Ayame Kajou yang belakangan diketahui oleh Tanukichi sebagai teroris yang membantunya kabur dari kejaran polisi saat berangkat sekolah. Ia pun diseret oleh Ayame Kajou untuk bergabung dengan organisasi terorisnya yang bernama SOX yang bertujuan untuk melawan aturan pemerintah tentang larangan hal-hal berbau seksual. Organisasi ini juga sering melancarkan aksi dengan menyebarkan majalah-majalah berisi kontem seksual di sekolah. 

Pentingnya Pendidikan Seksual Sejak Dini (Usia Masa Sekolah)

Shimoneta rata-rata bercerita dengan latar belakang sekolah. Target organisasi teroris SOX juga kebanyakan murid-murid SMA. Sedikit menandakan banwa usia di rentang sekolah menengah merupakan disaat pentingnya edukasi seksual diajarkan, dikarenakan saat itu remaja sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya. 

Shimoneta memberikan gambaran ketika hal-hal yang dianggap buruk seperti pornografi dan hal-hal berbau seksual lainnya dilarang dengan agresifnya, maka sesuatu tersebut bisa jadi semakin agresif pula muncul ke masyarakat. 

Saat awal mula masuk sekolah, Tanukchi ditanya oleh Fuwa (siswa klub penelitian) tentang bagaimana cara membuat anak. Hal ini mengherankan karena pelajaran seperti ini seharusnya sudah diajarkan pada siswa SMA. Tanukichi bahkan berkata bahwa orang-orang di sekolahnya tidak tau tentang biologi (betul, tapi hanya terbatas pada reproduksi karena berkaitan dengan seksual)

Saat SOX beraksi, para korban ketika melihat gambar yang disebar hanya dapat merasakan “suatu sensasi dan dorongan” tanpa tau dorongan apa itu. Hal seperti ini yang menjadi concern dari SOX, yaitu memberikan pelajaran seksual bagi para murid (walalupun dengan cara yang ‘kotor’). 

Seorang siswa teladan sekaligus ketua OSIS, Anna Nishikinomiya, adalah contoh nyata dari akibat buruk tiadanya pendidikan seksual pada usia anak sekolah. Saat mengalami dorongan seksual karena ketertarikannya pada lawan jenis (tanukichi) ia tidak tahu apa yang sedang ia alami. Saat tidak bisa menahan hasratnya ia pun bertindak sesuai dengan nalurinya. 

Disinilah pentingnya Pendidikan seksual. Dari kata pendidikan seharusnya sudah memberi gambaran tentang proses perubahan tingkah laku atau kepribadian. Dengan kata lain Pendidikan seksual memberi arahan agar anak-anak berperilaku atau mempunyai kepribadian sesuai dengan kodrat seksualnya. Dari pendidikan ini juga diajarkan mengenai cara yang benar dan sah mengenai hubungan antar jenis kelamin serta batasan-batasan sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku. Anime Shimoneta memberi realita jika edukasi seksual pada anak rentang usia sekolah diabaikan, akan terjadi  miskonsepsi terhadap isu seksual yang salah satunya bisa berujung pada kekerasan dan pelecehan seksual. 

Anime Shimoneta memberikan titik temu bagi masyarakat yang pro dan kontra dengan pendidikan seksual pada anak-anak di usia sekolahan. Karena semua orang sepakat jika potensi perilaku asusila yang bertentangan dengan nilai dan norma kehidupan masyarakat haruslah ditutup sejak di bangku sekolah, dan itu melalui pendidikan seksual. 

Seperti Apa Pendidikan Seksual Pada Anak-Anak?

Kata-kata seksual seringkali membuat orang sudah salah sangka sampai mengkaitkannya dengan hal-hal negatif. Padahal pendidikan seksual memberikan arahan dan batasan agar anak-anak bertingkah dan berperilaku tidak menyimpang dari kodratnya serta tidak menabrak nilai dan norma yang berlaku. 

Namun seperti apa cara yang tepat untuk mengajarkan pendidikan seksual pada anak-anak? Apakah pada anak TK sudah bisa diajarkan mengenai sistem reproduksi? tentu saja tidak. Namun pendidikan seksual sudah bisa diajarkan pada anak usia dini dengan membiasakan hal-hal berikut. 

1. Mendidik anak-anak agar merasa nyaman dengan tubuhnya. Ini berarti sedari kecil anak sudah harus diajarkan bersyukur dengan tubuhnya agar ia bisa merasa nyaman. 

2. Mengajarkan anak-anak tentang kehidupan khusus dan kehidupan umum. Anak harus sudah diajarkan apa yang boleh dilakukan didalam rumah dan apa yang boleh dilakukan ketika diluar rumah. Misalkan membuka anggota tubuh tertentu ketika berada di tempat umum. 

3. Mengajarkan anak mengenai hal-hal pribadi. Misalkan anggota tubuhnya yang tidak boleh disentuh dan dilihat oleh orang lain.

4. Membimbing anak agar mengetahui perbedaan laki-laki dan perempuan. Hal ini disesuaikan dengan umum agar dipahami  baik oleh anak-anak, misalkan sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW agar anak sedari umur 7 atau 10 tahun agar dipisah tempat tidurnya antara laki-laki dan perempuan. Hal ini akan memberi gambaran pada anak-anak perbedaan mereka dari jenis kelamin mereka. 

Tentu banyak sekali hal yang bisa diajarkan pada anak-anak mengenai edukasi seksual supaya tidak terjadi miskonsepsi yang bisa berujung pada tindak kekerasan seksual. Namun cara mengedukasinya pun haruslah tepat dan disesuaikan dengan umur anak agar bisa dipahami dengan baik. Mengenai edukasi seksual pun pada dasarnya sudah banyak diatur oleh norma-norma agama, seperti hadits dari Rasulullah SAW yang memerintahkan anak agar tidur terpisah saat umur 7 atau 10 tahun. 

Dalam Islam juga banyak norma yang mengatur hubungan laki-laki dengan perempuan, yang muara norma ini adalah edukasi seksual yang baik untuk anak-anak di usia berkembang mereka. 

Fasliah.id