Review Josee, the Tiger and the Fish : Pesan Apa yang Bisa Dipetik Dari Anime Movie Ini?

review Josee, the tiger and the fish

Josee, the Tiger and the Fish tayang di Indonesia ketika dunia perbioskopan perlahan mulai hidup semenjak ditutup karena pandemi. Anime movie yang berjudul asli Josee to Tora to Sakana-tachi ini turut campur dalam meramaikan bioskop, terbukti dari jumlah penontonnya yang lebih banyak dari Violet Evergarden the Movie, menurut Feat Pictures. 

Ketika menonton film ini, saya gak akan mengira jika ternyata movie ini adalah versi remake dari film originalnya yang rilis tahun 2003. Tidak ada kesan lawas dari versi anime-nya dan ceritanya juga terlalu asyik untuk diikuti sehingga membuat penonton tidak sadar jika yang mereka tonton adalah film remake dari 18 tahun yang lalu. 

Namun dari fakta tersebut, Josee, the Tiger and the Fish adalah anime movie yang sangat bagus untuk ditonton, bukan hanya karena cerita romance nya yang bikin mewek, tapi juga grafik yang disajikan cukup memuaskan mata penonton. Ada banyak yang bisa di petik dari review anime movie Josee, the Tiger and the Fish ini. 

Konflik Hati

Sesuai dengan review film yang paling banyak diinginkan, yaitu kesan terhadap cerita. Bagi saya secara kesulurahan cerita yang diangkat sangat menarik dan apa yang ingin ditonjolkan yakni cerita romansa antara Josee dan Tsuneo berhasil menarik penonton untuk ikut merasakan konflik hati antar tokoh dalam movie ini. 

Josee adalah perempuan dengan keterbatasannya yang membuat ia selalu ditemani oleh neneknya ketika berada diluar rumah. Ia tidak bisa berjalan menggunakan kedua kakinya. Josee adalah penyandang disabilitas yang mengharuskannya menggunakan kursi roda untuk berpindah-pindah tempat. 

Sedangkan Tsuneo digambarkan sebagai laki-laki yang sedang giatnya bekerja dan belajar untuk masa depannya. Ia anak kuliahan yang bekerja sambilan di tokoh peralatan selam. Tsuneo sangat menyukai pekerjaannya karena berkaitan dengan pemandangan bawah laut, selain itu ia bekerja untuk mengumpulkan modalnya kuliah s2 di meksiko. 

Baca juga : Review film hukum : Dark Waters

Dengan kata lain, Tsuneo adalah laki-laki yang cerah masa depannya, sedangkan Josee adalah kebalikannya. Josee adalah gambaran dimana masa depannya sudah tergambar dengan jelas, beda halnya dengan tsuneo yang punya banyak pilihan untuk menjadi apa dan pergi kemana saja. 

Perbedaan ini yang membuat keduanya tidak bisa bersama (apalagi jatuh cinta), tapi bukannya tidak mungkin. Pertemuan Josee dan Tsuneo pertama kali juga bukan dalam kesan pertemuan pertama yang baik. Josee yang kehilangan kendali atas kursi rodanya menabrak Tsuneo yang sedang berjalan. Tsuneo yang berniat menolong juga ditanggapi ketus oleh Josee. 

Dari pertemuan itulah, Tsuneo tau bahwa nenek Josee memerlukan orang yang bisa menemani Josee ketika ingin berjalan keluar rumah. Tsuneo yang ingin mendapatkan uang tambahan langsung mengiyakan pekerjaan tersebut. Walau Josee bukanlah perempuan yang ramah, namun ia akan bertahan karena ia membutuhkan uang. Dari sini Tsuneo selalu datang ke rumah Josee setiap hari untuk mengurus Josee. 

Saat itulah dimulai awal mula cerita kedekatan keduanya, Tsuneo yang butuh uang dan Josee yang harus punya asisten yang mengurus keperluannya. Tidak mudah sebenarnya untuk menyadari kapan keduanya bisa saling jatuh cinta, karena sejak awal hubungan keduanya lebih banyak diwarnai rasa tidak suka josee atas kehadiran Tsuneo. Selain itu juga ada konflik cinta dari pihak ketiga. 

Kepedulian pada Disabilitas

Josee, the tiger and the Fish adalah film yang bukan hanya mengangkat konflik romance, namun juga mengangkat isu kepedulian kepada kaum disabilitas. Nenek Josee sangat melarang Josee untuk bepergian keluar rumah, apalagi jika sendiri. Hal itu karena banyak orang diluar sana yang tidak suka melihat kaum disabilitas di tempat umum, hal ini karena streotif bahwa mereka akan menghambat pengguna fasilitas yang lain. 

Scene ketika Josee ingin mengisi saldo kartu MRT nya di salah satu stasiun. Dimana Josee ingin bertanya pada orang dan banyak yang tidak menghiraukannya. Bahkan ada pejalan kaki yang menyalahkan Josee ketika pejalan kaki tersebut menyenggol kursi rodan yang ia pakai. Dalam film ini memang digambarkan dimana banyak orang yang tidak ramah terhadap kaum disabilitas. 

Saat merasakan perbuatan yang tidak enak tersebut, Josee berkata "ada banyak harimau". Mungkin inilah asal usul kata 'Tora (tiger)' pada judul. Namun yang menakjubkan adalah fasilitas umum disana yang sangat mudah diakses oleh kaum disabilitas. Sebenarnya Josee yang menggunakan kursi roda sebenarnya bisa dan mudah untuk bepergian karena transportasi dan fasilitas publik yang mendukung, hanya orang-orang nya saja yang tidak ramah.

Sebenarnya perhatian kepada kaum disabilitas tidak hanya dilakukan oleh perseorangan saja, namun juga dengan kebijkan yang memudahkan mereka ketika mereka diluar rumah. Di Indonesia, sangat jarang ada jalan dan taman serta tempat umum yang 100% dapat diakses oleh kaum disabilitas. Karena akses yang mudah di tempat umum bagi pejalan kaki saja sering dipermasalahkan, apalagi yang khusus bagi kaum disabilitas. 

Kesimpulan 

Review Josee, the Tiger and the Fish yang dibuat disini sebenarnya terasa kurang jika mengingat rasa puas saat selesai menonton film ini. Melihat perkembangan karakter Josee sungguh sangat memuaskan karena kita akan melihat Josee yang terus maju dan pantang menyerah mengejar cita-citanya bahkan setelah ditimpah musibah terberat dalam hidupnya. 

Melihat Tsuneo yang tidak berubah perasaan dan tujuannya bahkan setelah harus berhadapan dengan tragedi yang mengancam masa depannya membuat saya pribadi benar-benar merasa termotivasi. Anime movie ini tidak hanya mengangkat masalah percintaan yang rumit, namun juga hal lain yang membuat penonton merasa terpuaskan.