Hari Buku Sedunia 2020 : Bagaimana Mengolah Buku Agar "Berdampak" Pada Hidup Anda - Fasliah.id

Thursday, April 23, 2020

Hari Buku Sedunia 2020 : Bagaimana Mengolah Buku Agar "Berdampak" Pada Hidup Anda

buku bacaan

Rasanya di era 4.0 membaca bukan lagi sekedar kebutuhan melainkan bagian dari gaya hidup seseorang. Era modern ditandai dengan derasnya arus informasi yang menuntut manusia selalu update pengetahuan melalui media penyampai informasi. Tidak diragukan lagi bahwa mereka yang tertinggal dari informasi, pasti dengan mudahnya tergerus oleh sisi negatif peradaban modern sekarang. Salah satunya adalah Hoax.



Salah satu cara mendapatkan informasi adalah dengan membaca, tidak diragukan lagi, sudah pasti kan? Karena membaca bukan hanya aktifitas untuk memperoleh informasi, tetapi juga bagian dari budaya umat manusia yang sudah dilakukan oleh para intelektual dan pemikir ulung.

Contoh yang relevan adalah Stephen Hawking, fisikawan tersohor yang terkenal karena hipotesanya yang mempopulerkan ide tentang lubang hitam, dalam bukunya A Brief History of Time banyak memnceritakan gagasan Albert Einstein, Galileo Galilei, Isaac Newton dan puluhan ilmuwan lainnya. Buku ini menunjukkan bahwa kemampuan intelektual Hawking dikarenakan proses telaahnya terhadap buku/literatur hasil penelitian ilmuwan selain ia. Hawking juga banyak membantah hasil penelitian ilmuwan lainnya, menandakan pendalamannya terhadap penelitian yang ia bantah tersebut.

Membaca adalah budaya seorang intelektual. Namun sekarang peradaban menuntut manusia tidak hanya menjadikan aktivitas membaca hanya sekedar budaya, namun juga gaya hidup. toko buku bertebaran dimana-mana seperti tumbuhnya jamur di musim hujan. Selain itu, tren memperlihatkan bahwa penjualan buku setiap tahun mengalami kenaikan. Tidak sedikit penulis yang mengadakan pre-order buku dan sudah ribuan orang yang memesannya dalam hitungan jam.

Masyarakat jelas punya ketertarikan terhadap buku. Setidaknya itu yang bisa disimpulkan jika melihat trend yang ada. Namun yang menjadi pertanyaan apakah tren naiknya jumlah penjualan buku menunjukkan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik? Apakah budaya intelektual mendominasi ketika terjadi perselisihan di tengah masyarakat? Dan yang terpenting, apakah setiap diri pribadi merasa menjadi lebih baik ketika tren penjualan buku setiap tahun mengalai kenaikan?

Hoax masih menjadi permasalahan pelik di tengah masyarakat. walaupun bukan permasalah utama, namun akibatnya bisa fatal apabila tidak bis dikendalikan. Masyarakat juga lebih sering bertindak main hakim sendiri ketika terjadi silang pendapat daripada mendahulukan diskusi. Penampakan rusaknya moral para muda-mudi sangat tabu di tengah masyarakat. Apa yang salah dari penjualan buku yang mengalami kenaikan ini? Bukannya masyarakat harusnya menjadi lebih baik karena semakin tertarik dengan budaya membaca?

Peradaban Kapitalisme


Kita hidup di zaman dimana segala hal yang dinilai dapat mendatangkan keuntungan materi dapat di kapitalisasi. Bukan hanya kebutuhan pokok manusia, kebutuhan sekunder dan tersier manusia yang dapat mendatangkan keuntungan dapat dikapitalisasi. Karena membaca bukan hanya kebutuhan namun juga bagian dari budaya dan gaya hidup, perusahaan melihat ini sebagai peluang usaha. Ini adalah fakta yang tidak dapat dihindari. Apalagi jika melihat fakta buku-buku yang banyak diborong para kawula muda adalah buku yang tergolong mahal dari sisi harga.

Buku yang mendominasi pun banyak dari genre atau kategori yang jauh dari esensi apalagi tujuan dari membaca, yakni membangun budaya literasi. Pembaca buku terjebak diantara keinginan para kapitalis yang ingin meraup sebesar-besarnya keuntungan dengan keinginan pembaca untuk mendapatkan feedback psoitif dari buku. Dengan kata lain, tren naiknya penjualan buku di Indonesia hanya menunjukkan romantise masyarakat terhadap buku.

saya percaya bahwa tidak ada buku yang sia-sia untuk dibaca, termasuk novel bergenre Fiksi Erotis seperti serial novel Fifty Shades. Genre apapun itu pasti bermanfaat untuk yang membacanya. Muatan buku fiksi sangat bermanfaat bagi otak perasa manusia, genre non fiksi pun sangat bermanfaat bagi otak pemikir kita.

Yang salah dari kita adalah sikap yang cenderung berlebihan untuk memaksakan diri membeli buku. Bahkan tak sedikit pula yang tidak paham buku mana yang harus diprioritaskan. Sehingga maksud membaca Buku sebagai gaya hidup tidak lain adalah kamuflase dari budaya konsumtif masyarakat itu sendiri.

Hasilnya penikmat buku terjebak dalam romantisme buku, dan yang lebih parah menjadi mangsanya kapitalis. Tidak masalah sih sebenarnya kalo kalian merasa baik-baik saja. Tetapi inilah yang menjadi jawaban mengapa banyak masyarakat Indonesia sering mengkonsumsi Hoax dan budaya literasinya menjadi mangkrak. Kendati tren penjualan buku yang setiap tahun selalu mengalami kenaikan.

Hari Buku Sedunia tahun 2020 ini seharusnya menjadi momen intropeksi diri. Dari sekian banyak buku yang telah dibeli, berapa banyak yang benar-benar telah dibaca?  Dan yang paling penting, sejauh mana proses membaca itu membawa diri mu ke perubahan yang lebih baik? Perubahan positif apa yang didapatkan dari buku tersebut?

Bagaimana Buku Dapat Membawa Dampak Positif?


buku bacaan rekomendasi
buku karya felix siauw


Buku seharusnya membawa perubahan yang berarti kepada pembacanya. Tidak ada buku yang akan sia-sia untuk dibaca baik itu fiksi ataupun non-fiksi. Tinggal bagaimana manajemen waktu dan skala prioritas tentang buku yang benar-benar harus kamu beli dan baca. Dua hal ini penting agar budaya baca kita terjebak dalam romantisme buku dan menjadi mangsa bagi kapitalis.

Dan yang benar-benar penting adalah bagaimana buku tersebut memberi dampak pada diri. Menurut Mark Manson dalam buku terbaru nya Everything is F*cked segala-galanya ambyar) buku yang baik adalah buku yang dapat mempengaruhi kedua otak manusia, yakni otak pemikir dan otak perasa. Informasi dalam buku tidak sekedar menambah ilmu/pengetahuan dalam diri, namun juga mampu mendorong kemauan untuk berbuat sesuatu.

Karena itulah pembaca sendirilah yang dapat mengolah buku agar benar-benar bermanfaat bagi hidup. Bukan bukunya, melainkan diri anda bersama kedua otak anda yakni otak pemikir dan otak perasa.

Informasi hanya akan menjadi pengetahuan apabila otak perasa tidak dilibatkan dalan proses membaca tersebut. Dan sebaliknya Informasi dalam buku hanya akan membuat angan-angan dan mimpi yang membuat anda halu sesaat apabila otak pemikir tidak dilibatkan dalam proses membaca. ini biasa terjadi pada remaja yang membaca novel fiksi-romance yang punya plot yang berlebihan.

Tujuan membaca adalah membuat celah perubahan diri ke arah yang lebih baik. Literasi bukan hanya tentang buku, literasi adalah tentang berpikir yang kritis yang kita dapatkan dari proses membaca dan menulis. Berpikir kritis menandakan bahwa buku yang kita baca membawa dampak pada diri. Budaya literasi inilah yang diharapkan menjadi trend ketika membaca bukan lagi hal yang tabu di jumpai ditengah masyarakat.

Salam hangat!
Fasliah.id

Share with your friends

Featured

[Featured][recentbylabel]